Sejarah Singkat Berdirinya Kerajaan Arab Saudi

Taufiq Kurniawan
Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Sejarah Islam di Marmara University


Kerajaan Arab Saudi atau The Kingdom of Saudi Arabia adalah sebuah negara yang memiliki sistem pemerintahan Monarsyi Absolut yang berada di wilayah Jazirah Arab. Nama kerajaan Arab Saudi sendiri berasal dari nama keluarga pendiri kerajaan tersebut yaitu keluarga Saud. Pendirian kerajaan ini bermula pada abad ke 18 saat Muhammad b. Saud mulai berkuasa sebagai amir (penguasa lokal) wilayah Diriyah. Pada saat Kesultanan Utsmani masih berkuasa, mereka mengamanahkan tatanan wilayah Jazirah Arab kepada Syarif Makkah yang berkuasa di wilayah Hijaz. Utsmani mempercayakan Syarif Makkah untuk memimpin seluruh qabilah yang ada di wilayah tersebut.

Selain itu Utsmani tidak lupa juga mengirimkan utusan/ gubernur ke wilayah seputaran Jazirah Arab seperti Jeddah, Baghdad dan Syam. Semua utusan yang bertugas di wilayahnya selalu menyampaikan informasi tentang perkembangan yang ada di wilayah kepada Sultan Utsmani di Istanbul. Pada tahun 1700’an saat struktur Pemerintahan Utsmani sudah mulai melemah, di wilayah Jazirah Arab mulai banyak terjadinya perang antar suku demi merebut kekuasaan di wilayah mereka masing-masing. Peperangan ini menyebabkan berdirinya keamiran (provinsi kecil) yang di pimpin oleh amir (penguasa lokal) di beberapa wilayah di Jazirah Arab. Salah satu contohnya adalah Keamiran Diriyah yang mulai di pimpin oleh Muhammad b. Saud pada tahun 1744.

Keamiran Diriyah yang di pimpin oleh Muhammad b. Saud ini merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Arab Saudi. Pendirian Kerajaan Arab Saudi sendiri terbagi dari tiga fase, yaitu fase pertama dari tahun 1744 hingga 1818, fase kedua dari tahun 1823 hingga 1891 dan fase ketiga dari tahun 1902 hingga hari ini.

Fase Pertama

Kerajaan Arab Saudi fase pertama di mulai ketika Muhammad b. Saud mulai memimpin Keamiran Diriyah pada tahun 1744. Kekuatan politik pada keamiran ini mulai terbentuk ketika salah seorang ulama yang berasal dari Najd yang bernama Muhammad b. Abdulwahab datang ke Diriyah pada tahun 1745 dengan tujuan mencari perlindungan sekaligus menyebarkan pemikiran salafinya dalam memerangi bid’ah, syirik dan khurafat. Dan pada hari ini pemikiran salafinya ini di kenal dengan istilah Wahhabisme.

Walau pada awalnya ada kecurigaan keluarga Saud terhadap Ibnu Abdulwahab, namun akhirnya Ibnu Saud menerima keberadaan Ibnu Abdulwahab di wilayah kekuasaannya. Selain itu Ibnu Saud juga menerima pemikiran salafinya Ibnu Abdulwahab, sehingga Ibnu Abdulwahab di angkat menjadi pemimpin keagamaan Keamiran Diriyah. Wilayah kekuasaan Saud meluas seiring dengan tersebarnya pemikiran salafinya Ibnu Abdulwahab. Seperti wilayah Najd yang masuk di bawah kekuasaan Ibnu Saud karena banyak qabilah di Najd yang mengabulkan pemikiran Ibnu Abdulwahab serta mendapatkan perlindungan dari Keamiran Diriyah.

Muhammad b. Saud selama memimpin pernah berusaha menaklukkan wilayah Riyad, Najran dan Lahsa namun tidak berhasil. Setelah wafatnya Ibnu Saud pada tahun 1765, pemerintahan Keamiran Diriyah di lanjutkan oleh anaknya yang bernama Abdulaziz. Abdulaziz sempat hampir menguasai wilayah Hijaz, Lahsa hingga ke pesisir pantai wilayah Basra. Namun ia mengurungkan niatnya setelah mendapatkan teguran dari wali (gubernur) Baghdad Sulaiman Pasya, yang mana teguran ini merupakan perintah dari Sultan Utsmani di masa itu.

Setelah wafatnya Abdulaziz pada tahun 1803, pemerintahan ini di lanjutkan oleh anaknya yang bernama Saud. Ketika Saud memimpin ia berhasil melakukan perluasan wilayah kekuasaan hingga ke perbatasan Lahsa dan Baghdad. Pada tahun 1806 ia berhasil menguasai wilayah Haramain, sehingga hal ini membuat tatanan kekuasaan pemimpin Utsmani Sultan Selim III menjadi goyah. Ketika Sultan Mahmud II naik tahta, ia memerintahkan gubernur Mesir Muhammad Ali Pasya untuk menyelesaikan permasalahan Hijaz. Muhammad Ali Pasya pun mengirimkan pasukan yang di pimpin oleh anaknya yaitu Tosun Pasya pada tahun 1811 dan menterinya yaitu Ahmad Pasya pada tahun 1812 ke wilayah Hijaz. Pasukan tersebut berhasil menguasai Hijaz dan mengusir semua anggota dan pasukan Saud dari wilayah tersebut.

Semua keluarga Saud terpaksa harus kembali ke wilayah asalnya yaitu Diriyah. Pada tahun 1814 ketika Saud b. Abdulaziz meninggal, tahta kepemimpinan beralih kepada anaknya yang bernama Abdullah b. Saud. Ia pun melanjutkan kekuasaan keluarga Saud di wilayah Diriyah. Pada tahun 1818 Muhammad Ali Pasya kembali mengirimkan pasukan yang di pimpin oleh anaknya yang bernama Ibrahim Pasya ke Diriyah. Ketika Ibrahim Pasya menguasai wilayah Diriyah ia berhasil menangkap Abdullah b. Saud.

Atas perintah Sultan Ustmani, Abdullah b. Saud di kirimkan ke Istanbul untuk di adili. Abdullah b. Saud di jatuhi hukuman mati pada tanggal 17 desember 1818 atas kasus perusakan Hujrah Sa’adah (Makam Rasul dan Sahabat) selama invasi keluarga Saud di Hamarain. Ada riwayat mengatakan bahwa Abdullah b. Saud di hukum dengan cara di pengal dan kepalanya pun di buang ke selat Bosphorus. Kematian Abdullah b. Saud menyebabkan berakhirnya kekuasaan Keamiran Saud fase pertama.

Fase Kedua

Keamiran Saud Fase kedua bermula ketika salah seorang dari keluarga Saud yang bernama Turki b. Abdullah mengalahkan pasukan Mesir di Riyad, sehingga ia berhasil menguasai Riyad pada tahun 1824. Ia berhasil mendirikan kembali Keamiran Saud di Riyad dari tahun 1824 hingga kematiannya akibat perang internal pada tahun 1834. Maka sejak tahun 1834 kepemimpinan di lanjutkan oleh anaknya yang bernama Faisal b. Turki. Akan tetapi pemerintah Mesir menangkapnya dan mempercayakan sepupunya yang bernama Abdullah b. Thunayyan sebagai âmir Riyad. Setelah Konvensi London tahun 1840 pemerintah Mesir di wajibkan melepaskan kembali Faisal b. Turki, dan hasilnya ia kembali memimpin Keamiran Saud di Riyad untuk kedua kalinya.

Ketika ia sedang berusaha memperluaskan wilayah kekuasaannya, atas perintah Kesultanan Utsmani, Syarif Makkah Muhammad b. Muin memberi teguran kepada Faisal b. Turki. Faisal pun mendengar teguran tersebut dan meminta maaf atas tindakan yang yang ia lakukan. Serta ia bersedia untuk tunduk terhadap Kesultanan Utsmani dengan membayar pajak dan memberlakukan pembacaan khutbah atas nama Sultan Utsmani di wilayah kekuasaannya. Oleh sebab pernyataan ini Sultan Utsmani mempercayai Faisal b. Turki dan mengangkatnya sebagai Gubernur Najd.

Pada tahun 1865 ketika Faisal b. Turki meninggal, jabatan Gubernur Najd di ambil alih oleh anaknya yang bernama Abdullah b. Faisal. Tetapi saudaranya yang bernama Saud b. Faisal melakukan pemberontakan untuk merebut kekuasaan, sehingga terjadilah perang internal di keluarga Saud. Pada tahun 1874 Saud berhasil mengalahkan Abdullah pada perang ini, sehingga ia berhasil menjadi Gubernur Najd. Setahun setelah itu Saud meninggal dan jabatan kekuasaannya di ambil alih oleh saudaranya yang lain yang bernama Abdurrahman b. Faisal. Tapi hal ini tidak berlangsung lama sebab Abdullah kembali berhasil merebut tahta kekuasaan dari Abdurrahman.

Selama terjadinya perang saudara di dalam keluarga Saud, pada tahun 1878 Abdullah b. Faisal mulai bertikai dengan keluarga Ibnu Rasyid yang hidup di wilayah Jabal Shammar. Pemerintah Utsmani kali ini lebih mempercayai keluarga Ibnu Rasyid, sehingga Utsmani mendukung Muhammad b. Rasyid agar menguasai wilayah Najd. Sehingga pada akhirnya pertikaian ini berakhir pada tahun 1889 dan semua wilayah kekuasaan keluarga Saud di ambil alih oleh Muhammad b. Rasyid. Pada tahun 1891 semua anggota keluarga Saud di usir dari Riyad dan Najd. Dan Sultan Abdulhamid II mengizinkan keluarga Saud untuk menetap di wilayah Kuwait. Fase keamiran Saud kedua berakhir sejak keluarga Ibnu Rasyid menguasai wilayah Najd dan sekitarnya.

Fase Ketiga

Fase Keamiran Saud ke tiga bermula pada tahun 1902 ketika anaknya Abdurrahman b. Faisal yang bernama Abdulaziz kembali ke Riyad dan membunuh para pejabat dan pemimpin Riyad dari keluarga Ibnu Rasyid. Kemudian Abdurrahman b. Faisal kembali berkuasa di wilayah Riyad. Maka dari itu pemerintah Utsmani kembali melakukan operasi militer ke wilayah Riyad namun tidak berhasil. Sehingga Utsmani terpaksa memberikan jabatan Gubernur Riyad kepada Abdurrahman b. Faisal.

Walaupun Abdurrahman adalah Gubernur Riyad, namun semua permainan politik di mainkan oleh anaknya yang bernama Abdulaziz. Abdulaziz berhasil membujuk banyak qabilah Arab untuk ikut mendukung keluarga Saud. Di sisi lain ia juga mengirimkan utusan ke setiap qabilah untuk mengontrol segala urusan. Pada akhirnya Abdulaziz mendirikan sebuah pasukan militer yang bernama Ikhwan. Pada saat Utsmani menghadapi perang Balkan tahun 1913, Abdulaziz memamfaatkan moment ini untuk menaklukkan wilayah Lahsa yang sebelumnya di kuasai oleh Ustmani.

Pada tahun 1914 Utsmani kembali melakukan perjanjian damai dengan keluarga Saud dengan memberikan jabatan Gubernur Najd kepada Abdulaziz. Hal ini di lakukan untuk mencegah terjadinya kerja sama antara keluarga Saud dengan negara barat seperti Inggris yang sudah memiliki utusan yang menetap di wilayah teluk Persia. Usaha Utsmani bisa di sebut sia-sia karena Abdulaziz telah menjalani kerjasama dengan Inggris secara diam-diam.

Kerja sama ini membuat Inggris selalu membantu keluarga Saud dalam meluaskan daerah kekuasaannya hingga hampir ke seluruh Jazirah Arab. Dalam kerjasamanya Inggris selalu berusaha menunjukkan sikap netralnya keluarga Saud seolah-olah Saud tidak terlibat pada berbagai peristiwa. Seperti contoh Inggris sengaja membuat kerja sama dengan pemimpin Makkah Syarif Husain agar memberontak kepada Utsmani, supaya keluarga Saud bisa merebut wilayah Haramain secara keseluruhan setelah mengalahkan Syarif Husein pada tanggal 16 Oktober 1924. Setelah itu keluarga Saud juga berhasil menguasai wilayah Hijaz, Najran, Jizan dan beberapa wilayah lain di Jazirah Arab.

Setelah menguasai hampir seluruh Jazirah Arab, Abdulaziz b. Abdurrahman berhasil menjadi pemimpin kerajaan Hijaz dan Najd. Namun ketika Inggris secara resmi mengakui kerajaan ini sebagai negara yang merdeka pada tahun 1932, kerajaan ini berubah nama menjadi Kerajaan Arab Saudi atau dengan istilah lain The Kingdom of Saudi Arabia, yang mana nama ini di kenal hingga pada hari ini.


Daftar Pustaka

Cook, Michael, ”Muhammed b. Abdülvehhâb”. Türkiye Diyanet Vakfı İslâm Ansiklopedisi (DİA) (İstanbul: Türkiye Diyanet Vakfı, 2005), c. XXX, s. 491-492.

eş-Şâhid, Seyyid Muhammed, ”Muhammed b. Suûd”, Türkiye Diyanet Vakfı İslâm Ansiklopedisi (DİA) (İstanbul: Türkiye Diyanet Vakfı, 2005), c. XXX, s. 570-571.

Kurşun, Zekeriya. Necid ve Ahsa’da Osmanlı hakimiyeti : Vehhabi hareketi ve Suud Devleti’nin ortaya çıkışı, Ankara : Türk Tarih Kurumu, 1998.

______. ”Suûdîler”, Türkiye Diyanet Vakfı İslâm Ansiklopedisi (DİA) (İstanbul: Türkiye Diyanet Vakfı, 2009), c. XXXVII, s. 584-587.

______. ”Suudi Arabistan”, Türkiye Diyanet Vakfı İslâm Ansiklopedisi (DİA) (İstanbul: Türkiye Diyanet Vakfı, 2009), c. XXXVII, s. 581-584.

Published by baleeinstitute

Established on March 29, 2020

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: